FPL Pasbar Hadirkan Gol A Gong ke Pasaman Barat, Aksi Bupati Yulianto Borong Buku Jadi Perhatian

Berita, Daerah, Sumbar195 Views
banner 468x60

Pasaman Barat ,GejolakNews– Di tengah derasnya arus informasi digital yang terus mengubah cara manusia belajar, sebuah pesan kuat menggema dari Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Lebih dari seribu orang berkumpul bukan untuk sebuah konser, pertandingan olahraga, ataupun seremoni politik, melainkan untuk merayakan sesuatu yang jauh lebih mendasar bagi masa depan bangsa: literasi.

Sebanyak 1.050 guru, siswa, mahasiswa, dan pegiat literasi memadati Balerong Anak Nagari Pasaman Barat pada Sabtu, 10 Oktober 2026, dalam Seminar Literasi bertajuk “Seribu Guru Hebat, Sejuta Murid Literat.” Kehadiran mereka menunjukkan bahwa budaya membaca dan menulis masih memiliki daya tarik besar ketika dihidupkan melalui kolaborasi, inspirasi, dan kepemimpinan yang nyata.

banner 336x280

Seminar yang digagas Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat (FPL Pasbar) bersama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Pasaman Barat tersebut menjadi contoh bagaimana gerakan literasi dapat tumbuh melalui kerja bersama. Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Bunda Literasi, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Sumatera Barat, serta berbagai organisasi perangkat daerah bergandengan tangan menghadirkan sebuah ruang belajar yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Bupati Pasaman Barat, Yulianto, sementara Ketua FPL Pasbar Denni Meilizon yang juga bertindak sebagai ketua panitia menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan. Seminar turut dihadiri Bunda Literasi Kabupaten Pasaman Barat Ny. Sifrowati Yulianto, para kepala organisasi perangkat daerah, jajaran Dinas Pendidikan, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Sumatera Barat, Ketua Dharma Wanita Persatuan Ny. Erisa Doddy San Ismail, serta ratusan guru, pelajar, mahasiswa, dan komunitas literasi.

Sorotan utama seminar adalah kehadiran Duta Baca Indonesia periode 2021–2026, Gol A Gong. Novelis produktif yang telah menulis lebih dari 200 buku sekaligus menjelajahi 27 negara itu mengajak peserta melihat literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan jalan untuk mengenali dunia, membangun karakter, dan melahirkan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Melalui pengalaman panjangnya sebagai penulis, Gol A Gong berbagi kisah tentang bagaimana buku mampu mengubah kehidupan seseorang. Ia mendorong para guru untuk menjadi penggerak budaya membaca di sekolah, sekaligus mengajak para pelajar berani menulis agar gagasan mereka dapat memberi warna bagi masa depan Indonesia.

Sebelum sesi utama dimulai, suasana seminar dipenuhi nuansa budaya Minangkabau. Tari Pasambahan yang dibawakan siswa SD Negeri 07 Pasaman menyambut para tamu dengan penuh khidmat, kemudian dilanjutkan prosesi pemasangan deta, penutup kepala khas Minangkabau, oleh Bupati Yulianto kepada Gol A Gong sebagai simbol penghormatan kepada tamu sekaligus penghargaan terhadap dunia literasi.

Salah satu momen yang paling membekas sepanjang kegiatan bukan terjadi di atas panggung, melainkan ketika Bupati Yulianto mengambil langkah sederhana namun sarat makna. Ia membeli lima buku karya Gol A Gong berjudul Raket, Pena, dan Petualangan sebagai bentuk dukungan nyata terhadap gerakan literasi.

Aksi tersebut tidak berhenti sebagai simbol pribadi. Di hadapan lebih dari seribu peserta, Bupati mengajak seluruh tamu undangan dan peserta seminar ikut membeli buku karya Duta Baca Indonesia sebagai bentuk penghargaan terhadap penulis sekaligus investasi bagi tumbuhnya budaya membaca.

Ajakan itu disambut antusias. Antrean pembelian buku segera terbentuk dan para peserta menunjukkan bahwa kecintaan terhadap bacaan dapat tumbuh ketika pemimpin memberikan teladan melalui tindakan nyata, bukan sekadar pidato.

Seluruh buku yang dibeli Bupati kemudian diserahkan kepada Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pasaman Barat. Keputusan tersebut memastikan bahwa buku-buku tersebut tidak berhenti menjadi koleksi pribadi, melainkan menjadi milik publik yang dapat dinikmati para pengunjung Perpustakaan Daerah Pasaman Barat.

Momen tersebut menjadi ilustrasi sederhana mengenai bagaimana kebijakan publik dapat dimulai dari tindakan kecil yang berdampak luas. Ketika seorang pemimpin membeli buku, ia sesungguhnya sedang mengirimkan pesan bahwa membaca merupakan investasi sosial yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam sambutannya, Bupati Yulianto menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya diwujudkan melalui jalan, gedung, ataupun infrastruktur fisik. Menurutnya, investasi terbesar sebuah daerah justru terletak pada pembangunan kualitas manusianya melalui pendidikan dan penguatan budaya literasi.

Ia menilai bahwa perubahan geopolitik dunia dan perkembangan teknologi menuntut Indonesia memiliki generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu berpikir kritis, adaptif, dan berkarakter. Karena itulah, literasi menjadi fondasi penting untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi tantangan masa depan.

“Dalam situasi dunia saat ini dengan berbagai dinamika geopolitik, Indonesia membutuhkan anak-anak hebat yang mampu mengawal masa depan bangsa. Salah satu upaya untuk mewujudkannya adalah melalui kegiatan literasi,” ujar Yulianto.

Menurut Bupati, makna literasi jauh melampaui kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, menyaring pengetahuan, memperluas wawasan, membangun daya pikir, hingga mampu mengambil keputusan yang bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga memberikan penghormatan kepada para guru yang selama ini menjadi fondasi utama lahirnya sumber daya manusia Indonesia. Baginya, setiap tokoh hebat yang pernah mengukir prestasi selalu memiliki jejak seorang guru yang membimbing perjalanan hidupnya.

“Guru adalah pahlawan kita. Siapa pun yang hebat hari ini tentu mendapatkan pendidikan dari seorang guru. Karena itu, kita harus memberikan apresiasi kepada guru-guru yang dengan penuh keikhlasan terus mendidik anak-anak kita,” katanya.

Yulianto berharap gerakan literasi mampu menjadi sarana membangun karakter generasi muda sekaligus mengarahkan minat, bakat, dan kreativitas mereka ke arah yang produktif. Ia percaya bahwa budaya membaca dapat menjadi benteng terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi remaja, mulai dari kekerasan hingga tawuran antarpelajar.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan membangun generasi berkualitas tidak mungkin dicapai oleh pemerintah semata. Sinergi antara sekolah, keluarga, komunitas, dan masyarakat harus terus diperkuat agar setiap anak memperoleh lingkungan yang mendukung proses belajar sepanjang hayat.

Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Pasaman Barat Ny. Sifrowati Yulianto mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan budaya membaca sebagai gerakan bersama. Menurutnya, keberhasilan literasi tidak ditentukan oleh banyaknya buku yang tersedia, tetapi oleh kemauan seluruh pihak menciptakan lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan.

“Gerakan literasi merupakan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, dan komunitas harus berjalan bersama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya membaca,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kebiasaan membaca perlu ditanamkan sejak usia dini agar rasa ingin tahu anak terus berkembang. Buku, menurutnya, membuka jendela dunia, sedangkan kemampuan menulis memberi kesempatan kepada setiap orang untuk meninggalkan gagasan dan karya yang dapat menginspirasi generasi berikutnya.

Sifrowati juga menilai kehadiran Gol A Gong memberikan energi baru bagi para guru dan pegiat literasi di Pasaman Barat. Pengalaman panjang sang Duta Baca Indonesia menjadi bukti bahwa konsistensi membaca dan menulis mampu membuka kesempatan tanpa batas, bahkan hingga menjelajahi berbagai negara.

Kesuksesan seminar ini lahir dari kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Dinas Perhubungan, Bagian Umum Sekretariat Daerah, unsur protokoler dan humas, Bunda Literasi, serta Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Sumatera Barat. Sinergi tersebut memperlihatkan bahwa gerakan literasi akan tumbuh lebih kuat ketika menjadi agenda bersama seluruh pemangku kepentingan.

Sepanjang kegiatan, suasana berlangsung hidup, hangat, dan penuh interaksi. Pembagian doorprize berupa buku bacaan semakin menyemarakkan acara, sementara media sosial dipenuhi unggahan peserta yang membagikan pengalaman mereka bertemu langsung dengan Duta Baca Indonesia.

Bagi Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat dan PGRI Kabupaten Pasaman Barat, seminar tersebut bukanlah tujuan akhir. Momentum ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya lebih banyak guru yang gemar membaca, aktif menulis, dan mampu menginspirasi murid untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Dari Balerong Anak Nagari, sebuah pesan penting kembali ditegaskan kepada Indonesia. Gerakan literasi tidak akan hidup hanya melalui slogan, tetapi melalui keteladanan pemimpin, dedikasi guru, dukungan masyarakat, dan keberanian generasi muda untuk terus membaca, berpikir, menulis, serta berkarya.

Semangat “Seribu Guru Hebat, Sejuta Murid Literat” akhirnya menjelma menjadi lebih dari sekadar tema seminar. Ia berubah menjadi sebuah harapan bersama bahwa dari sebuah kabupaten di pesisir barat Sumatera, nyala literasi dapat menyebar ke seluruh penjuru Indonesia dan melahirkan generasi yang lebih cerdas, berkarakter, serta siap menghadapi masa depan dunia.

(laporan  Fadhli)

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *